Manajemen dan Filsafat
Filsafat
atau falsafah mempunyai banyak pengertian. Menurut Socrates, filsafat
adalah suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh atau cara
berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Tetapi
tugas filsafat tidak menjawab pertanyaan yang timbul dalam kehidupan,
tetapi mempersoalkan jawaban yang diberikan. Berfilsafat adalah berpikir
radikal atau sampai kepada radiks-nya (akarnya), menyeluruh dan
mendasar. Hal-hal yang sekecil-kecilnyapun tidak akan luput dari
pengamatan kefilsafatan. Pernyataan apapun dan betapapun sederhananya
tidak diterima begitu saja oleh filsafat tanpa pengujian yang seksama.
Mengenai filsafat itu sendiri diterangkan oleh Will Durant bahwa mula-mula ada dua cabang filsafat, yaitu (1) filsafat alami (natural philosophy) dan (2) filsafat moral (moral philosophy).
Filsafat alami berkembang menjadi ilmu-ilmu alam, sedangkan filsafat
moral berkembang menjadi ilmu-ilmu sosial. Dari keterangan paragraf
terdahulu jelas kiranya bahwa adanya ilmu didahului oleh adanya
filsafat. Pertumbuhan dan perkembangan ilmu senantiasa dirintis oleh
filsafat. Oleh karena itu, untuk dapat memahami ilmu terlebih dahulu
perlu dipahami filsafat. Filsafat menjadi pionir yang mencarikan obyek
kepada ilmu dan memberikan pedoman kepadanya.
Filsafat
bersifat menyeluruh, mendasar, dan spekulatif. Dengan kata lain cakupan
filsafat hanyalah mengenai hal-hal yang bersifat umum. Hal-hal yang
bersifat khusus menjadi kajian ilmu. Jadi cakupan ilmu memang lebih
sempit dari pada cakupan filsafat. Meskipun cakupan ilmu lebih sempit,
kajian ilmu adalah lebih mendalam dan lebih tuntas.
Filsafat
membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan
kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering
dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena
kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia
saja. Sesungguhnya isi alam yang dapat diamati hanya sebagian kecil
saja, diibaratkan mengamati gunung es, hanya mampu melihat yang di atas
permukaan laut saja. Semantara filsafat mencoba menyelami sampai kedasar
gunung es situ untuk meraba segala sesuatu yang ada melalui pikiran dan
renungan yang kritis.
Ilmu
merupakan pengetahuan yang digumuli sejak sekolah dasar, pendidikan
lanjutan dan perguruan tinggi, berfilsafat tentang ilmu berarti berterus
terang kepada diri sendiri. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada
batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang digunakan dalam
menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empriris.
Ilmu
mengalami perkembangan, yaitu perkembangan tahap awal dan tahap akhir.
Pada perkembangan tahap awal ilmu masih menggunakan norma filsafat
sebagai dasarnya, sedangkan metodenya adalah metode normatif dan
deduktif. Pada tahap akhir ilmu menggunakan temuan-temuan sebagai
dasarnya dan menyatakan diri sebagai sesuatu yang otonom (mandiri) yang
terlepas dari filsafat, adapun metodenya adalah deduktif dan induktif.
Pandangan mengenai sejarah perkembangan ilmu yang ditinjau dari perilaku
ilmuannya sebagaimana dikemukakan oleh August Conte adalah sebagai
berikut : Ada tiga tingkatan perkembangan ilmu yakni, (1) tingkat
religi, (2) tingkat metafisika, dan (3) tingkat ilmiah.
Telaah
ilmu dari segi filosofis adalah telaah yang berusaha menjawab
pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Telaah tersebut dinamakan filsafat
ilmu. Pertanyaan yang diusahakan untuk dijawab oleh filsafat ilmu adalah
yang berkenaan dengan :
a. Obyek telaah suatu ilmu.
b. Wujud hakiki obyek tersebut.
c. Hubungan antara obyek dan manusia yang membuah ilmu dan pengetahuan.
d. Cara memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang benar.
e. Penggunaan ilmu dan pengetahuan.
Pengetahuan
dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu
dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk
mengetahui apa yang telah tahu dan apa yang belum tahu, berfilsafat
berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahui dalam
kemestaan yang seakan tak terbatas. Demkian juga berfilsafat berarti
mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh
sebenarnya kebenaran yang dicari telah dijangkau.
Manajemen
mengandung tiga pengertian yaitu: pertama, manajemen sebagai proses,
kedua manajemen sebagai kolektivitas, ketiga manajemen sebagai suatu
seni (art) dan suatu ilmu. Hal-hal
yang bersifat khusus yang menjadi kajian keilmuan manajemen antara lain
adalah: perencanaan, organisasi, penyusunan, pengarahan, pengawasan,
dan manajemen sumberdaya manusia. Pengertian ketiga istilah tersebut di
atas diuraikan sebagai berikut :
1).
Manajemen sebagai suatu proses, berbeda-beda definisi yang diberikan
oleh para ahli. Menurut Haiman, manajemen adalah fungsi untuk mencapai
sesuatu dengan melalui kegiatan orang lain dan mengawasi uasaha-usaha
individu untuk mencapai tujuan utama bersama. Selanjutnya menurut GR.
Terry mengatakan bahwa manajeman adalah pencapaian tujuan yang
ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain.
dari dua defenisi tersebut dapat disimplkan bahwa ada tiga pokok penting
dalam defisi tersebut yaitu, pertama adanya tujuan yang ingin dicapai,
kedua tujuan yang dicapai dengan mempergunakan kegiatan orang lain, dan
ketiga kegiatan orang lain itu harus dibimbing dan diawasi.
2).
Manajeman sebagai kolektivitas, orang-orang yang melakukan aktivitas
manajeman. Jadi setiap orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam
suatu badan tertentu disebut manajeman. Dalam arti tunggal disebut
manejer. Manejer adalah pejabat yan bertanggung jawab atas
terselenggaranya aktivitas-aktivtas manajemen agar tujuan unit
pimpinannya tercapai dengan menggunakan bantuan orang lain.
3).
Manajemen sebagai suatu seni dan ilmu, manajemen sebagai seni berfungsi
untuk mencapai tujuan yang nyata mendatangkan hasil atau manfaat,
sedangkan manajeman sebagi ilmu berfungsi menerangkan fenomena-fenomena,
kejadian-kejadian, kedaan-keadaan. Jadi memberikan
penjelasan-penjelasan.
Dalam pembahasan ini akan dijelaskan tentang bagaimana manajemen dari sudut ontologi, epistemologi dan aksiologi filsafat.
1. Ontologi
Ontologi kadang-kadang disamakan dengan metafisika. Istilah metafisika
itu pertama kali dipakai oleh Andronicus dari Rhodesia pada zaman 70
tahun sebelum Masehi. Artinya adalah segala sesuatu yang berkenaan
dengan hal-hal yang bersifat supra-fisis atau kerangka penjelasan yang
menerobos melampaui pemikiran biasa yang memang sangat terbatas atau
kurang memadai. Makna lain istilah metafisika adalah ilmu yang
menyelidiki kakikat apa yang ada dibalik alam nyata. Jadi, metafisika
berati ilmu hakikat. Ontologi pun berarti ilmu hakikat.
Yang
dimasalahkan oleh ontologi dalam ilmu Manajemen adalah siapa yang
membutuhkan manajeman?. Pertanyaan ini sering dijawab perusahaan
(bisnis), tentu saja benar sebagian tetapi tidak lengkap karena
manajeman juga dibutuhkan untuk semua tipe kegiatan yang diorganisasi
dan dalam semua tipe organiasasi. Dalam pratik menajemen dibutuhkan
dimana saja orang-orang bekeja sama untuk mencapai suatu tujuan bersama.
Dilain
pihak setiap manusia dalam perjalanan hidupnya selalu akan menjadi
anggota dari beberapa macam organisasi, seperti organisasi sekolah,
perkumpulan olah raga, kelompok musik, militer atau pun organisasi
perusahaan. Organisasi-organisasi ini mempunyai persamaan dasar walaupun
dapat berbeda satu dengan yang lain dalam beberapa hal, seperti contoh
organisasi perusahaan atau departemen pemerintah dikelola secara lebih
formal dibanding kelompok musik atau rukun tetangga. Persamaan ini
tercermin pada fungsi-fungsi manejerial yang dijalankan.
2. Epistemologi
Istilah epistemologi ini pertama kali digunakan oleh J.F. Ferrier pada tahun 1854 dalam bukunya yang berjudul Institute of Metaphysics. Menurut
sarjana tersebut ada dua cabang dalam filsafat, ialah: epistemologi dan
ontologi. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani episteme yang berarti pengetahuan dan logos
yang berarti teori. Jadi, dengan istilah itu nyang dimaksud adalah
penyelidikan asal mula pengetahuan atau strukturnya, metodenya, dan
validitasnya.
Ruang
lingkup epistemologi pada Manajemen dapat dilihat dalam kaitannya
dengan sejumlah disiplin ilmu yang bisa ”kerja sama” seperti:
pendidikan, ekonomi, politik, dan lain-lain. Namun ruang lingkup itu
mengalami perkembangan, sehingga pada setiap era terdapat lingkup yang
khusus dalam epistemologi itu. Ruang lingkup yang khusus bisa terjadi
pada disiplin ilmu manajemen itu sendiri sehingga melahirkan
spesialisasi pengkajiannya. Di antara spesialisasi itu adalah :
a. Manajeman pendidikan
b. Manajeman sumberdaya manusia
c. Manajemen keuangan
d. Manajemen personalia
e. Manajemen produksi, dan lain sebagainya
Semula epistemologi ini mempermasalahkan kemungkinan yang mendasar mengenai pengetahuan (very possibilityof knowledge). Apakah pengetahuan yang paling murni dapat dicapai. Permasalahan
epistemologi di ilmu manajemen berkisar pada ihwal proses yang
memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu: bagaimana
prosedurnya, apa yang harus diperhatikan untuk mendapatkan pengetahuan
yang benar, apakah yang disebut kebenaran dan apa saja kriterianya,
serta sarana apa yang membantu orang mendapatkan pengetahuan yang berupa
ilmu.
Jawaban-jawaban
yang dibutuhkan untuk memenuhi pertanyaan tersebut di manajemen sudah
sedemikian rupa diberlakukan bagi para ilmuwan itu sendiri. Prosedur
dengan pendekatan metode ilmiah adalah prosedur baku untuk menelaah
manajemen.
Cara
pencarian kebenaran yang dipandang ilmiah ialah yang dilakukan melalui
penelitian. Penelitian adalah hasrat ingin tahu pada manusia dalam taraf
keilmuannya. Penyaluran sampai taraf setinggi ini disertai oleh
keyakinan bahwa ada sebab bagi setiap akibat, dan bahwa setiap gejala
yang tampak dapat dicari penjelasannya secara ilmiah. Penelitian adalah
suatu proses yang terjadi dari suatu rangkaian langkah yang dilakukan
secara terencana dan sistematis untuk mendapatkan jawaban sejumlah
pertanyaan.
Pada
setiap penelitian ilmiah melekat ciri-ciri umum, yaitu : pelaksanaannya
yang metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang logik dan koheren.
Artinya dituntut adanya sistem dalam metode maupun dalam hasilnya. Jadi
susunannya logis. Ciri lainnya adalah universalitas. Bertalian dengan
universalitas ini adalah objektivitas. Setiap penelitian ilmiah harus
objektif artinya terpimpin oleh objek dan tidak mengalami distorsi
karena adanya berbagai prasangka subyektif. Agar penelitian ilmiah
dijamin objektivitasya, tuntutan intersubjektivias perlu dipenuhi.
3. Aksiologi
Aksiologi berasal dari bahasa Yunani axios yang berarti `memiliki harga ’mempunyai nilai’, dan logos
yang bermakna `teori` atau `penalaran Sebagai suatu istilah, aksiologi
mempunyai arti sebagai teori tentang nilai yang diinginkan atau teori
tentang nilai yang baik dan dipilih. Teori ini berkembang sejak jaman
Plato dalam hubungannya dengan pembahasan mengenai bentuk atau ide (ide tentang kebaikan).
Permasalahan aksiologi ilmu manajemen (1) sifat nilai, (2) tipe nilai, (3) kriteria nilai, dan (4) status metafisika nilai. Masing-masing dicoba untuk dijelaskan dengan ringkas sebagai berikut. Sifat nilai atau paras nilai didukung
oleh pengertian tentang pemenuhan hasrat, kesenangan, kepuasan, minat,
kemauan rasional yang murni, serta persepsi mental yang erat sebagai
pertalian antara sesuatu sebagai sarana untuk menuju ke titik akhir atau
menuju kepada tercapainya hasil yang sebenarnya. Di dalam mengkaji Manajemen berkecimpung tentunya dilandasi dengan hasrat untuk mendapatkan kepuasan.
Perihal tipe nilai didapat informasi bahwa ada nilai intrinsik dan ada nilai instrumental. Nilai intrinsik ialah nilai konsumatoris atau yang melekat pada diri sesuatu sebagai bobot martabat diri (prized for their own sake).
Yang tergolong ke dalam nilai instrinsik adalah kebaikan dari segi
moral, kecantikan, keindahan, dan kemurnian. Nilai instrumental adalah
nilai penunjang yang menyebabkan sesuatu memiliki nilai instrinsik.
Penerapan
tipe nilai bagi manajemen diarahkan manajemen sebagai profesi. Banyak
usaha yang telah dilakukan untuk mengklasifikasikan manajemen sebagai
profesi, kriteria-kriteria untuk menentukan sesuatu sebagai profesi yang
dapat diperinci sebagai berikut:
1). Para
profesional membuat keputusan atas dasar prinsip-prinsip umum. Adanya
pendidikan kursus-kursusan program-program latihan formal menunjukan
bahwa ada pinsip-prinsip manajemen tertentu yang dapat diandalkan
2).
Para profesional mendapatkan status mereka karena mencapai standar
prestasi kerja tertentu, bukan karena favoritisme atau karena suku
bangsa atau agamanya
3). Para profesional harus ditentukan oleh suatu kode etik yang kuat, dengan disiplin untuk mereka yang menjadi klienya.
Manajeman
telah berkembang menjadi bidang yang semakin profesional melalui
perkembangan yang mencolok program-program latihan manajemen di
Universitas-universitas ataupun lambaga-lembaga manajemen swasta dan
melalui pengembangan para eksekutif organisasi atau perusahaan.
Ontologi disamakan dengan metafisika,
itu pertama kali dipakai oleh Andronicus dari Rhodesia pada zaman 70
tahun sebelum Masehi. Artinya adalah segala sesuatu yang berkenaan
dengan hal-hal yang bersifat supra-fisis atau kerangka penjelasan yang
menerobos melampaui pemikiran biasa yang memang sangat terbatas atau
kurang memadai.
Epistemologi pertama kali digunakan oleh J.F. Ferrier pada tahun 1854 dalam bukunya yang berjudul Institute of Metaphysics. Menurut
sarjana tersebut ada dua cabang dalam filsafat, ialah: epistemologi dan
ontologi. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani episteme yang berarti pengetahuan dan logos
yang berarti teori. Jadi, dengan istilah itu nyang dimaksud adalah
penyelidikan asal mula pengetahuan atau strukturnya, metodenya, dan
validitasnya.
Aksiologi berasal dari bahasa Yunani axios yang berarti `memiliki harga, `mempunyai nilai`, dan logos
yang bermakna `teori` atau `penalaran`, artinya sebagai teori tentang
nilai yang diinginkan atau teori tentang nilai yang baik dan dipilih. Teori ini berkembang sejak jaman Plato dalam hubungannya dengan pembahasan mengenai bentuk atau ide (ide tentang kebaikan).
Manajemen
adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan
usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumberdaya
organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah
ditetapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Bakry, Noor Ms. 2001. Logika Praktis Dasar Filsafat dan Sarana Ilmu. Yogyakarta : Penerbit Liberty.
Bucaille, Maurice. 1994. Asal-usul Manusia. Bandung : Mizan
Handoko, T, Hani, 2003, Manajemen : Edisi 2, Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta
Manullang, M, 1999, Dasar-dasar Manajemen, Jakarta : Ghalia Indodesia
Sukra, Yuhara. 2000. Wawasan Ilmu Pengetahuan Embrio : Benih Masa Depan. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.
Suriasumantri, Jujun S. 1999. Filsafat Ilmu. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan
Pidarta Made, 1997, Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan bercorak Indonesia, Jakarta, PT. Rineka Cipta